"Faith is confidence or trust in a person, thing, deity, or in the doctrines or teachings of a religion".
Percakapan seseorang tadi malam membuatku terbersit keinginan untuk menulis sesuatu tentang keimanan. Tidak bermaksud untuk tiba-tiba menjadi relijius karena saat ini sedang bulan puasa tapi percakapan itu sangat menarik untukku.
Jadi begini, aku follow 2 orang cewek di Twitter. Yang satu bernama Fatima (orang Afghanistan yang bermukim di Inggris) dan yang satunya bernama Carter (orang Iraq yang bermukim di Swedia).
Sudah sekitar 2 tahun aku memfollow Fatima di twitter, sejak dia berhijab hingga dia melepas hijabnya. Sebelumnya dia adalah orang yang relijius dan untuk beberapa sebab dia memutuskan untuk membuka hijab. Dari pernyataan yang pernah dia ungkapkan di Twitter, salah satu alasan dia melepas hijabnya adalah karena orang-orang lebih sering mengkritik dia pada saat memakai hijab daripada saat dia tidak memakainya. Sebenarnya aku tidak heran dengan itu karena kita sebagai muslim dan wanita lebih sering dijudge karena hal tersebut, berhijab ataupun tidak. Tadi malam aku baru tau bahwa dia no longer muslim. Sedikit mengejutkan karena aku berpikir sebelumnya dia hanya sebatas melepas hijab dan masih muslim. Tapi rupanya aku salah.
Dia menyebutkan bahwa orang-orang tidak tau apa-apa tentang hidupnya dan apa yang telah dia lalui, dia pernah sangat depresi dan mencoba untuk bunuh diri, tidak seharusnya people judge her. Ada beberapa kejadian yang pernah dialaminya yang menyebabkan dia kehilangan keimanan. Dan aku tidak pernah tau apa itu.
Lalu bagaimana dengan Carter? Aku baru memfollow dia sekitar 2 minggu ini dan mengetahui bahwa dia adalah seorang mualaf (sebelumnya dia Shia). Seperti yang tertulis di bio twitternya, "After a series of failed suicide attempts, converting to Islam was the best decision I've ever made." Rupanya sebelum dia masuk islam, dia selalu berusaha untuk bunuh diri karena dia mengidap anorexia. Orang yang mengidap anorexia cenderung stres dengan tubuhnya dan tidak pernah puas. Dikarenakan itulah dia depresi dan ingin bunuh diri. Tetapi alhamdulillah Allah membimbingnya kembali ke Islam. FYI semalam aku juga baru tau bahwa dia dibesarkan sebagai muslim tetapi dia menjadi atheis karena suatu hal.
Percakapan mereka tadi malam yang tidak sengaja aku lihat di twitter tentang apa yang telah mereka alami sungguh sangat menarik perhatianku. Bagaimana mereka intinya punya cerita yang berbeda tetapi sangat berkaitan. Yang satu tentang kehilangan keimanan dan yang satunya tentang menemukan kembali keimanannya. Aku selalu berharap bahwa Fatima bisa kembali menjadi bagaimana dia sebelumnya.
Aku menceritakan kisah ini bukanlah untuk menjudge seseorang atau apapun itu. Kita semua pasti memiliki kisah kelam di hidup kita. Aku pun tidak malu untuk mengakui bahwa aku pernah sangat depresi dan mencoba untuk bunuh diri. I have faith but sometimes when we are down and dont know what to do, satan controls our mind and blinding it. Alhamdulillah setan tidak cukup kuat untuk memperdayaku dan aku masih hidup hingga kini.
Keimanan kepada Allah adalah hubungan kita dengan-Nya yang bisa merasakan, itu semua sangat private. Orang-orang gak pernah tau apa yang telah kita hadapi di kehidupan kita. Tidak semua orang bisa mengerti dan mau tau apa yang telah terjadi di hidup kita. Sometimes I think that no one could understand me but God, that's why difficult to believe with others.
People need to stop judge others because they know nothing about people's life.
Btw Ramadan Mubarak for all muslims around the worlds :)

No comments:
Post a Comment